PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN
A. Latar Belakang Pendekatan Konstruktivisme
Walaupun sejak lahir mempunyai potensi kognitif, manusia tidak dibekali dengan pengetahuan empiris atau aturan metodologis dalam pikirannya. Kita tidak pernah memperoleh pengetahuan yang telah jadi atau dalam paket-paket yang dapat dipersepsi secara langsung. Semua pengetahuan, metode untuk mengetahui, dan berbagai disiplin ilmu yang ada dalam masyarakat dibangun (constructed) oleh pikiran manusia. Paham ini selanjutnya dikenal dengan konstruktivisme.
Phillips dalam Light dan Cox (2001) melihat bahwa konstruktivisme telah menjadi agama sekular bagi perkembangan teori dan penelitian di bidang pendidikan secara luas. Namun demikian teori-teori yang bernafaskan konstruktivisme itu satu sama lain bervariasi secara signifikan.
Dimensi horisontal mendeskripsikan adanya perdebatan klasik tentang realitas atau pengetahuan, antara ‘ditemukan’ dengan ‘diciptakan’.
Pada ujung yang satu pengetahuan bebas dari campur tangan manusia; alam berfungsi sebagai ‘instruktur’ dari manusia menemukan prinsip-prinsipnya. Pada ujung yang lain pengetahuan dan realitas diciptakan oleh manusia. Dimensi vertikal menggambarkan perdebatan tentang faktor pendukung terjadinya konstruksi pengetahuan itu, antara proses internal (dalam individu manusia) atau sosial dan kultural (dalam masyarakat). Dimensi ketiga memperhatikan tingkat keaktifan proses konstruksi pengetahuan itu, antara aktif dan pasif. Pada ujung yang satu manusia (baik individual maupun sosial) mengkostruksi pengetahuan secara pasif, sebagai penonton; di ujung yang lain manusia mengkonstruksi secara aktif sebagai aktor. Kerangka teoritis yang dibahas dalam tulisan ini kira-kira berada di tengah-tengah sumbu horisontal, tetapi agak condong ke arah kutub ‘sosial’ dan ‘aktor’ dari kedua sumbu lainnya.
B. Prosedur pembelajaran konstruktivisme
Driver dalam Fraser and Walberg (1995) telah menciptakan prosedur pembelajaran berdasarkan konstruktivisme, memfasilitasi pebelajar membangun sendiri konsep-konsep baru berdasarkan konsep lama yang telah dimiliki. Pembangunan konsep baru itu tidak terjadi di ruang hampa melainkan dalam konteks sosial, dimana mereka dapat berinteraksi dengan orang lain untuk merestrukturisasi ide-idenya
Konsep lama yang dimiliki pebelajar digali pada pembelajaran pendahuluan, pada saat mereka mendapat orientasi berupa peristiwa alam, model, atau simulasi yang relevan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsep lama itu diperoleh pebelajar dari kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun, maupun dari pembelajaran sebelumnya. Tidak jarang di antara konsep-konsep itu ada yang salah (miskonsepsi), yang akan sangat mengganggu proses belajar selanjutnya apabila tidak diperbaiki sejak awal. Konsep lama yang sudah sesuai dengan konsep ilmiah sangat penting artinya bagi penanaman konsep-konsep baru yang akan dilakukan dalam pembelajaran inti.
C. Kompetensi yang Dikembangkan dalam Pembelajaran Kontruktivis
Di samping kompetensi disiplin (discipline-based competencies), pembelajaran konstruktivis juga mengembangkan kompetensi interpersonal (interpersonal competencies) dan kompetensi intrapersonal (intrapersonal competencies) dalam diri pebelajar. Kompetensi disiplin ilmu berkaitan dengan peman konsep, prinsip, teori dan hukum dalam disiplin ilmu masing-masing. Kompetensi interpersonal mencakup kemampuan berkomuniksi, berkolaborasi, berperilaku sopan dan baik, menangani konflik, bekerja sama, membantu orang lain, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Kompetensi intrapersonal mencakup apresiasi terhadap keanekaragaman, melakukan refleksi diri, disiplin, beretos kerja tinggi, membiasakan diri hidup sehat, mengendalikan emosi, tekun, mandiri, dan mempunyai motivasi intrinsik. Keempat lingkaran itu saling bersinggungan bagian tepinya sehingga manakala lingkaran pembelajaran menggelinding ketiga lingkaran lainnya akan ikut menggelinding
Lingkaran pembelajaran yang terintegrasi dengan tiga kompetensi itu seiring dengan dimensi-dimensi konstruktivisme pada. Pada saat mengkonstruksi pengetahuan dalam konteks sosiokultural kompetensi interpersonal pebelajar akan berkembang secara alami. Pada saat mengkonstruksi pengetahuan secara aktif (sebagai aktor) kompetensi intrapersonal pebelajar akan terfasilitasi secara optimal.
D. Strategi Pembelajaran Kontruktivis
a. Langsung (Tatap Muka)
Secara umum tatap muka terdiri dari tiga bagian, yaitu :
Pendahuluan : Memberikan “orientasi” dan “penggalian ide” untuk mengetahui prakonsepsi pebelajar.
Inti: Merupakan bagian terbesar pembelajaran, digunakan untuk menfasilitasi “restrukturisasi ide” mengarah ke perbaikan konsep, pembelajar menilai apakah ide-ide itu sudah mendekati konsep ilmiah yang sesungguhnya. Selanjutnya memberi kesempatan kepada pebelajar untuk “mengaplikasikan ide-ide” yang baru dipelajari untuk memecahkan berbagai masalah. Pemantapan pebelajar atas ide-ide itu sebenamya baru, namun akan mantap setelah digunakan untuk memecahkan masalah.
Penutup : Melakukan “review perubahan ide” untuk membandingkan ide yang telah dipelajari dengan ide awal yang muncul saat penggalian ide.
b. Tidak Langsung (Non Tatap Muka)
Dalam pembelajaran non tatap muka “restrukturisasi ide” dan “aplikasi ide” dapat terus difasilitasi; bedanya proses pembelajaran pebelajar, tanpa pengawasan pembelajar. Tugasnya bisa bersifat terstruktur (sesuai dengan perencanaan pembelajar), dapat juga mandiri (sesuai dengan minat masing-masing pebelajar).
E. Metode Pembelajaran Kontruktivis
Di dalam masing-masing tahap pembelajaran konstruktivisme di atas, tentu saja terdapat berbagai metode. Di bawah ini adalah beberapa metode yang sering dipakai :
Metode “sindikat” sangat cocok untuk topik yang dapat dipelajari sendiri oleh pebelajar. Mereka bekerja dalam kelompok, masing-masing anggota mempelajari satu aspek masalah secara mendalam sebelum bertemu dengan anggota lain dalam sindikatnya, memecahkan masalah secara bersama-sama secara intensif
Pembelajaran kelompok kecil biasanya terdiri dari 4-6 pebelajar; mereka saling mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah sebelum akhirnya mengambil kesimpulan. Beberapa pebelajar kurang berani berbicara dalam kelompok seukuran itu.
Sebagai jalan keluarya pembelajar perlu sekali-sekali membentuk “ triad “, yaitu kelompok yang hanya terdiri dari tiga orang. Dengan kelompok kecil itu mau tidak mau pebelajar akan berani berbicara.
“Praktikum” tidak selalu berlangsung di laboratorium dengan menggunakan alat-alat yang canggih, melainkan bisa juga berlangsung di alam sekitar dan masyarakat. Kegiatan praktikum hendaknya diarahkan untuk membekali pebelajar dengan : keterampilan praktikum dasar pengenalan alat-alat dan teknik pengukuran standar keterampilan melakukan pengamatan intrepretasikan data penulisan laporan keterampilan merencanakan percobaan minat terhadap ilmu
F. Media Pembelajaran Kontruktivis
Berbagai bentuk media perlu dimanfaatkan untuk mengakomodasi perbedaan karakteristik pebelajar, yang lebih kuat dalam visual, auditif, atau kinestetik. Modul: bahan ajar yang baik akan menyediakan petunjuk bagi pebelajar tentang bagaimana cara belajar. Isinya memberitahukan tentang cara-cara menggunakan bahan ajar itu secara tepat. Pasal-pasalnya antara lain memuat informasi tentang :
Berbagai bentuk media perlu dimanfaatkan untuk mengakomodasi perbedaan karakteristik pebelajar, yang lebih kuat dalam visual, auditif, atau kinestetik. Modul: bahan ajar yang baik akan menyediakan petunjuk bagi pebelajar tentang bagaimana cara belajar. Isinya memberitahukan tentang cara-cara menggunakan bahan ajar itu secara tepat. Pasal-pasalnya antara lain memuat informasi tentang :
- Bagaimana belajar, mempertahankan sikap positif
- Konsep dan prinsip, memikirkan sebelum menggunakan
- Jadwal belajar, setiap hari dua jam untuk satu jam tatap muka di kelas.
- Memanfaatkan fitur-fitur (features) yang ada dalam bahan ajar
- Pentingnya pemecahan masalah, suatu bukti peman seseorang
- Strategi pemecahan masalah,
- Eksperimen, di laboratorium atau di rumah, untuk setiap konsep penting
- Memantapkaan peman
- Himbauan untuk menyenangi pelajaran karena fenomenanya yang indah, di samping kegunaannya yang begitu banyak dalam kehidupan
- Media Presentese ( Power Point/flash ), media pembelajaran berbasis komputer ini dapat digunakan secara intensif dalam model pembelajaran yang berdasarkan konstruktivisme. Berbagai peristiwa penting dapat ditunjukkan dalam bentuk animasi; konsep-konsep yang mempunyai abstraksi tinggi dapat dijembatani secara optimal. Soal-soal yang berkaitan dengan animasi disertakan dalam program ini sehingga sifatnya interaktif. Pertama-tama animasi dibuat oleh pembelajar; selanjutnya pebelajar tertentu dilibatkan untuk berpartisipasi. Keuntungan ganda akan diperoleh dimana pebelajar terlibat secara aktif dan pembelajar terbantu dalam menyiapkan media.
- Overhead transparency. Jika mendapatkan kesulitan dengan komputer, tampilan-tampilan program power point itu dapat dicetak pada kertas ukuran A4 atau langsung ke tranparency untuk digunakan dalam penayangan menggunakan overhead projector.
- Soffware Lab. Virtual . Saat ini di internet banyak ditawarkan program-program laboratorium virtual yang bersifat interaktif, beberapa di antaranya dapat di download secara gratis. pebelajar dapat dengan leluasa melakukan pengamatan-pengamatan secara cermat, menuju pembentukan konsep secara diskoveri. Memori lab. virtual ada yang cukup kecil sehingga dapat direkam dalam floppy disc;ini sangat membantu pebelajar.
- Mailing list. Mailing list adalah alat komunikasi canggih berbasis internet, yang dapat mengatasi kendala ruang dan waktu. Mailiing list dapat dibuat dengan mudah oleh semua orang secara gratis, misalnya dalam website www.yahoo.com. Semua materi kuliah yang telah direkam dalam program power point dapat disebarluaskan kepada seluruh pebelajar dengan media mailing list ini. Sekali suatu informasi dikirimkan, seluruh anggota dapat menerima dan membacanya. Materi kuliah, animasi, contoh-contoh simulasi, tugas-tugas, temuan-temuan penting anggota, dan informasi lain semua dapat disampaikan melalui media ini. Pembelajar dapat mengakses informasi kapan saja dan di mana saja. Pembelajar yang sedang bertugas di luar kota dapat memanfaatkan media ini untuk memberikan tugas-tugas dari jarak jauh.
- Homepage dan sistemt e-learning. Jika kemampuan universitas telah memungkinkan untuk memiliki homepage sendiri yang mengudara sepanjang waktu dan memiliki program coursewa’e (untuk menyampaikan materi dan manajemen perkuliahan dari jarak jauh), pembelajaran fisika dapat dikombinasi dengan sistem e-learning. Mailing list merupakan bagian kecil dari sistern e-learning itu. SMS ( short message system ). Seringkali pembelajar perlu berkoordinasi dengan pebelajar tentang adanya informasi yang baru dikirim lewat m ailing list. Untuk itu pembelajar dapat memanfaatkan teknologi SMS ( short message system ) melalui handphone, untuk berkomunikasi dengan ketua kelas atau ketua-ketua kelompok.
G. Evaluasi Pembelajaran Konstruktivis
Evaluasi terhadap pembelajaran konstruktivis meliputi evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif menekankan pada proses, dan tujuannya lebih kepada perbaikan mutu pembelajaran; sedangkan evaluasi sumatif menekankan pada hasil. Untuk evaluasi formatif asesmen perlu dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan berikut ini:
- (a) diskusi kelas,
- (b) kegiatan kelompok kecil di kelas atau di lapangan tugas terstruktur, pekerjaan rumah,
- (c) kegiatan mandiri (proyek),
- (d) praktikum
- (a) kejelasan isi,
- (b) kebenaran teori,
- (c) presentasi hasil, dan
- (d) penampakan visual keseluruhan.
Nilai akhir dari hasil belajar pebelajar adalah gabungan dari berbagai nilai yang diperoleh. Komposisinya disepakati bersama pada awal perkuliahan.
[tony]
[tony]
Komentar
Posting Komentar